Saksi NU: nonmuslim dilarang menafsirkan Al Quran



Ahli agama Islam dari PBNU, Miftachul Akhyar menegaskan bahwa nonmuslim dilarang menafsirkan isi Al Quran, merujuk pada pernyataan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menyinggung Al Maidah 51 di depan warga Kepulauan Seribu, akhir September tahun lalu. 

"Yang diperbolehkan hanya ahli agama Islam. Itu saja masih bisa diperdebatkan," kata Miftachul dalam sidang kesebelas kasus penistaan agama Ahok di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta, hari ini.

Ahok dijerat Pasal 156a dan Pasal 156 KUHP dengan ancaman 4 tahun penjara. Menurut Pasal 156 KUHP, barang siapa di muka umum menyatakan perasaan permusuhan, kebencian atau penghinaan terhadap suatu atau beberapa golongan rakyat Indonesia diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.

Sementara menurut Pasal 156a KUHP, pidana penjara selama-lamanya lima tahun dikenakan kepada siapa saja yang dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia.

Miftachul menjelaskan, terdapat dua kesalahan yang dilakukan Ahok, yaitu menafsirkan Surat Al-Maidah ayat 51 sebagai orang nonmuslim dan mempengaruhi masyarakat dengan menyinggung Surat Al-Maidah ayat 51 dalam pidatonya di Kepulauan Seribu. 

"Apalagi tafsir yang diucapkan Ahok saat menyinggung Al-Maidah 51 dalam pidatonya tersebut adalah tafsir yang sesat," ucap Miftachul.

Selain Miftachul, Jaksa Penuntut Umum (JPU) juga dijadwalkan memanggil ahli agama Islam lainnya Yunahar Ilyas dan ahli pidana dari Universitas Islam Indonesia (UII) Mudzakkir.[Sumber : rimanews.com]

0 Response to "Saksi NU: nonmuslim dilarang menafsirkan Al Quran"

Poskan Komentar