Mengharukan! Kisah Seorang Muallaf, Hingga ia Meninggal Pada Sujud Shalat Jum'at



Ini merupakan kisah menakjubkan dari seseorang yang baru-baru ini masuk Islam, Abdurrahman رحمه الله yang tidak pernah bersujud kepada Allah selama 49 tahun hingga kemudian menemukan cahaya Islam melalui seorang muslimah di Maldives. (ia menolak disebutkan nama aslinya setelah berislam)
Kisah ini ditulis oleh muslimah yang memberikan dakwah kepada beliau رحمه الله dan sebagaimana yang diceritakan oleh beliau sendiri sebelum meninggal.

Abdurrahman adalah kawan karib saudara laki-laki saya. Ia berasal dari Kristen Katolik. Orang tuanya berlatar agama Katolik Roma. Ia anak sulung. Ayah dan kakeknya adalah pendeta Kristen yang sangat taat kepada agamanya. Namun Abdurrahman selalu berpikir kritis. Ia selalu bertanya,”Mengapa Tuhan mengirim seorang anak untuk menyelamatkan umat manusia? Bagaimana mungkin Tuhan memiliki nafsu seperti manusia sehingga melahirkan seorang anak? Mengapa Tuhan menciptakan seorang anak melalui mahkluk hidup (melahirkan)? Mengapa Dia tidak menciptakan seorang anak seperti Dia menciptakan Adam dan Hawa? Apakah Tuhan memiliki kekurangan? Mengapa Tuhan memiliki nafsu dan pikiran seperti manusia?”

Abdurrahman sering menanyakan semua pertanyaan itu kepada para pendeta di kotanya. Namun mereka tidak pernah bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Mereka malah berkata kepada Abdurrahman untuk tidak bertanya apa pun yang dilakukan Tuhan. Hal itu tentu saja sulit diterima oleh Abdurrahman. Karena banyaknya keraguan dan pertanyaan-pertanyaan yang membingungkan di kepalanya, ia akhirnya menyimpang dari agamanya. Malangnya ia lupa dengan Sang Pencipta dan menjadi seorang ateis, memercayai bahwa tak ada Tuhan Sang Pencipta! Ia mulai memercayai jawaban atas penciptaan manusia dan seluruh alam semesta berdasarkan ilmu pengetahuan.

Alam semesta menciptakan dirinya sendiri dan manusia adalah evolusi dari kera. Kita adalah hasil dari mutasi genetis. Semua makhluk hidup yang lain juga tercipta atas dasar proses yang sama seperti manusia. Pulau-pulau terpisah karena adanya “ledakan dahsyat” (big bang) yang terjadi milyaran tahun yang lalu.

Dan jadilah ia di usia 16 tahun, tak percaya lagi kepada agamanya dan Tuhan. Hingga ia menghabiskan 33 tahun sebagai ateis.

Seiring berjalannya waktu, Abdurrahman bertemu saudara laki-laki saya hingga mereka berteman akrab. Ia datang bersama saudara laki-laki saya ke Maldives dalam sebuah kunjungan untuk menjelajahi sebuah wilayah. Ia berkata tentang saat-saat pertama ia menginjakkan kaki di Maldives:

Aku berharap akan menjumpai para ekstremis agama di Maldives, dan aku sering membaca dan mendengar bahwa orang-orang muslim adalah para ekstremis sejati. Sepengetahuanku, Maldives adalah 100 % negara yang penduduknya Islam dan aku takut memikirkan itu. Namun asumsiku berubah ketika melihat pemandangan yang jauh berbeda dengan yang selama ini kupikirkan. Aku melihat pantai-pantai yang memukau, wanita-wanita yang berbusana mini, dan bar-bar. Semuanya ada di sini, kecuali agama. Ketika aku menanyakan hal ini kepada kawanku, aku menyadari aku tengah berada di sebuah tempat bersenang-senang. Kawanku berkata pulau yang lain akan berbeda. Namun malangnya pulau yang  kutempati juga tak jauh beda. Banyak wanita yang tak berpakaian dengan layak, ada masjid yang sangat sedikit jamaahnya -ini bukan apa yang sebelumnya  kuharapkan.

Suatu ketika saudara laki-laki saya membawa Abdurrahman ke rumah saya untuk bertemu anggota keluarga yang lain. Namun, ia berkata bahwa meskipun ia menemukan banyak kasih sayang, ia tidak melihat adanya kesalehan dalam keluarga saya.

Dalam tulisannya tentang kunjungan kali keduanya di Maldives, ia mengatakan keterkejutannya ketika melihat saudara perempuan kawannya (yaitu saya). Hal ini karena saya mengenakan niqab. Ia menulis:

Perempua itu bukan perempuan modern pertama yang pernah saya lihat. Saya tidak bisa melihat apa pun darinya kecuali kedua matanya. Dan ia menolak bersalaman dengan saya. Saya mendengar bahwa dalam Islam, perempuan selalu ditindas dan dibatasi hak-haknya. Suaminya menyuruhnya berpakaian hitam pekat dan melarangnya bepergian atau mencari ilmu di sekolah-sekolah atau universitas. Karena apa yang selalu saya lihat di media, saya selalu memiliki kesan buruk terhadap Islam. Saya tak suka dengan itu dan saya berdiskusi dengan kawan saya. Saya sangat marah karena perempuan itu (yaitu saya) dipaksa untuk mengenakan pakaian semacam itu.

“Perempuan itu seharusnya memiliki kebebasan untuk memperlihatkan kecantikannya jika ia mau! Itu tubuh dia! Ia punya kebebasan! Tak seorang pun punya hak memaksanya berpakaian seperti itu,” kata Abdurrahman kepada karibnya. “Hak apa yang kamu punya untuk memaksanya berpakaian seperti itu dan terus dikunci di dalam rumah?”

Suadara laki-laki saya melihat Abdurrahman dan berkata,”Saya tidak memaksanya untuk berpakaian seperti itu. Itu pilihannya! Bahkan saya juga tidak setuju ia berpakaian seperti itu. Saya juga telah mencoba meyakinkannya untuk tidak berpakaian seperti itu. Namun ia tidak mau merubah pikiran.”

Peristiwa itu adalah momen-momen yang merubah persepsinya tentang Islam. Ia akhirnya sadar, apa yang selama ini ia pelajari dari media lain adalah dusta dan mendiskreditkan Islam. Namun ia tetap tidak percaya akan adanya Tuhan.

Setelah kejadian itu, saya berdiskusi panjang dengannya dan mencoba dengan keras untuk membawanya kepada Islam, namun ia tidak terlalu memperhatikan ajakan saya.

Setelah dua tahun, Abdurrahmah kembali datang ke Maldives atas ajakan saudara laki-laki saya. Selama kunjungannya, saya mengundangnya untuk datang ke Islam senter tempat saya bekerja. Meskipun ia tidak terlihat begitu tertarik datang ke Masjid, ia menerima ajakan saya untuk menghargai saya. Ia telah mulai sadar seberapa gigih saya untuk mengajaknya memeluk Islam, namun ia tidak terlalu peduli.

Ia menulis dalam buku tamu Islam senter:

Saya bersaksi kepada Tuhan yang satu yang tidak ada sekutu bagi-Nya, saya merasakan sensasi aneh ketika pertama kali kaki saya menginjak lantai Masjid. Saya ingin keluar, namun sesuatu seolah menahan saya untuk tetap berada di dalam.

Ia mendengarkan dengan seksama penjelasan saya tentang masjid -tanggal peresmian masjid dan siapa-siapa yang membatu pembangunan masjid ini. Saya berkata kepadanya bahwa Kaligrafi Arab yang diletakkan di bagian berbeda dari masjid ini merupakan ayat-ayat Al-Qur’an dan Al-Qur’an adalah Kitab Suci kami. Saya juga berkata kepadanya bahwa Kitab ini diturunkan kepada Nabi kami Muhammad salallahu alaihi wa sallam 1400 tahun yang lalu dan tak satu ayat atau huruf pun berubah sejak pertama Kitab itu diturunkan hingga sekarang. 

Abdurrahman menjawab,”Apa? Itu tidak mungkin!

“Ini benar adanya.” jawab saya.

Dalam keterkejutaannya Abdurrahman berkata,”Itu tak masuk akal. Bahkan Injil telah berubah berkali-kali. Banyak versi Injil yang beredar di seluruh dunia. Untuk sebuah buku yang dibuat 1400 tahun yang lalu namun tetap utuh terjaga adalah hal yang mustahil!”

Saya menjawab,”Buku ini adalah wahyu dari Tuhan dan Dia menjaga Buku ini dari kerusakan. Bahkan tidak sebuah titik atau tanda baca lain pernah berubah.”

“Untuk membuktikan perkataan saya, saya akan membacakan sebuah ayat Al-Qur’an. Anda bisa meminta muslim dari negara mana pun untuk membacakannya. Tak peduli seberapa banyak anda meminta muslim untuk membacakannya, ayat itu tidak akan berubah,” tambah saya.

Saya jelaskan kepadanya tentang keajaiban-keajaiban yang disebutkan dalam Al-Qur’an secara ilmiah: tentang bagaimana alam semesta ini tercipta (teori big bang), dua arus laut yang tak pernah menyatu, sidik jari, dan bagaimana Al-Qur’an menjelaskan tentang cahaya bulan dan matahari. Ia tetap mendengarkan penejlasan saya. Setelah ia mulai mengutarakan argumennya, saya memberinya Muskhaf Al-Qur’an terjemahan Inggris untuk dibaca. Kemudian ia menjawab,”Jika demikian, Muhammad pasti seorang laki-laki yang pandai, karena bisa menulis buku semacam ini.”

“Muhammad adalah seorang buta aksara. Beliau anak yatim. Beliau dulu seorang pengembala, sebelum beliau akhirnya menikah,” jawab saya.

Menurut Abdurrahman, ia dulu menjadi tak yakin tentang apa yang harus diyakini setelah keluar dari masjid. Ia percaya kepada ilmu pengetahuan dan ilmu pengetahuan telah diturunkan kepada seorang lelaki buta aksara yang tinggal di padang pasir Makkah 1400 tahun yang lalu. Bagaimana ini bisa terjadi?

Ia meninggalkan masjid dengan membawa beberapa buku dan buletin Islam dan sering membacanya di waktu senggang. “The Unchangeable Miracles in Qur’an” adalah salah satu buku yang ia baca dan sebuah Muskhaf Al-Qur’an terjemahan Bahasa Inggris. Ia sering bertanya. Ia berkata bahwa ia sering membaca buku-buku tentang keajaiban dan kemudian memeriksanya dalam Al-Qur’an. Setiap kali ia melakukan itu, ia mendapati keajaiban-keajaiban itu selalu cocok dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Ia meninggalkan Maldives dengan membawa banyak buku yang kami berikan hingga kemudian ia percaya dengan adanya Pencipta. Sejak ia memutuskan untuk semakin mempelajari Islam, kami semakin banyak memberinya buku-buku Islami.

Setelah kembali ke negaranya, Abdurrahman menghabiskan banyak waktu untuk membaca buku-buku yang kami berikan dan semakin giat mempelajari Islam. Ia mengatakan bahwa ia sering pergi ke klub dan mabuk-mabukan dengan kawan-kawannya di akhir pekan (sabtu dan minggu). Namun setelah ia kembali ke negaranya ia tidak pernah lagi minum alkohol agar bisa fokus membaca buku-buku yang kami berikan. Ia tahu ia tak akan bisa memahami apa yang ia baca jika dalam keadaan mabuk. Ia menghabiskan waktu senggangnya untuk membaca buku-buku tentang Islam. Ia juga berkunjung ke masjid dan bertemu dengan Imam masjid dan para jamaah. Ia menanyakan banyak pertanyaan tentang Islam. Meskipun lokasi masjidnya sekitar satu jam perjalanan dengan berkendara dari daerahnya, hal itu tidak menghentikan keinginannya untuk menemukan apa yang ia ingin ketahui. Hingga ia mulai mengunjungi masjid secara teratur dan semakin mendapatkan banyak ilmu dari buku-buku yang ia baca. Ia mulai mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah terjawab ketika ia masih anak-anak. Semua keraguan dan ketakpastian dalam hatinya mulai memudar dan ia mulai merasakan cahaya hidayah Islam. Dalam sebuah E-mail, ia menulis bagaimana ia akhirnya memeluk Islam:

Mengapa muslim tidak minum alkohol? Aku selalu heran! Akhirya aku mendapatkan jawabannya! Akhirnya aku mendapatkan semua jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang selama ini saya miliki tentang agama dan kesalahpahaman saya selama ini berangsur-angsur hilang. Saya melihat bukti dari Al-Qur’an tentang adanya Sang Pencipta. Saya melihat bukti bahwa Allah adalah Tuhan yang satu yang tiada sekutu bagi-Nya. Untuk lebih meyakinkan diri saya, saya mencari tahu apa yang Al-Qur’an terangkan mengenai Yesus (Isa). Ketika saya tanyakan hal ini kepada Imam masjid, ia membacakan beberapa ayat Al-Qur’an kepada saya. Dari ayat-ayat itu akhirnya saya tahu bahwa Yesus adalah nabi Allah, bukan anak Allah. Dan Imam membacakan kepada saya beberapa ayat yang menerangkan keajaiban kelahiran Nabi Isa. Ia membacakan kepada saya keesaan Allah dan Dia tidak membutuhkan apa pun atau siapa pun. Saat itu seolah-olah saya telah mendapatkan semua yang ingin saya cari. Saya meningglkan Kristen karena banyak ajaran yang tak bisa saya terima, seperti Tuhan yang seolah memiliki kekurangan karena Dia membutuhkan bantuan manusia. Sangat bertolak belakang dengan apa yang ada dalam Al-Qur’an, Allah adalah Dzat yang satu, tidak membutuhkan bantuan makhluk dan Dia tidak memiliki keinginan atau nafsu seperti manusia. Dan saat itulah saya yakin bahwa saya telah menemukan agama saya! Saya telah menemukan Tuhan saya! Saya menemukan Allah! Air mata ini menetes ketika mendengar Imam membacakan ayat-ayat itu. Dan dalam perjalanan pulang, saya menangis dalam mobil. Saya tidak ingin menyia-nyiakan detik berikutnya, karena saya telah menyia-nyiakan 30 tahun dalam hidup saya! Tanpa membuang-buang waktu lagi, saya memeluk Islam.

Di hari itu, ia mandi kemudian pergi ke masjid. Imam mengajarinya berwudhu dan mengucapkan syahadatain.

“Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad salallahu alaihi wa sallam adalah rasulullah. Saya juga bersaksi bahwa Yesus (Isa alaihissalam) adalah nabi Allah bukan anak Allah.”

Setelah ia memeluk Islam, Abdurrahman mengirimi saya E-mail bahwa ia telah masuk Islam.

Ia mengungkapkan perasaannya dalam sebuah E-mail:

Ketika momen-momen saya masuk Islam terjadi, seolah banyak angsa menghantam tubuh saya dan udara dingin merasuk ke dalam tulang punggung saya. Saya merasa terbebas dari beban berat yang selama ini membebani. Seolah dosa saya sirna semua dan hati saya bercahaya, jiwa saya terasa damai dan saya merasa berada di tempat yang sangat tenang, damai dan tentram. Tak ada kata yang pas untuk menggambarkan perasaan saya saat itu; kebahagiaan, kepuasan, kedamaian, dan perasaan tentram. Saya berlutut sujud. Cucuran air mata terus membasahi pipi saya. Saya menangis lama sekali dalam sujud. Saya menangis dengan keras. Saya merasa jiwa ini baru saja menerima cinta dan kasih sayang dari Allah. Saya merasa dosa saya keluar dari pundak saya. Perasaan itu membuat saya menangis terus. Ketika saya bangun dari sujud, orang-orang di sekitar saya melihat saya dan mereka terlihat menangis, air mata membasahi janggut mereka. Mereka semua merangkul saya dan mengucapkan selamat atas keislaman saya. Mereka juga mengatakan saat ini saya adalah saudara mereka.

Abdurrahman memeluk Islam pada 26 November 2014. E-mail yang kirimkan membawa air mata kegembiraan. Semua orang yang bekerja di masjid berharap menjadi muslim suatu hari nanti. Hari berikutnya saya sampaikan berita ini kepada mereka. Air mata kegembiraan mengalir di pipi-pipi mereka dan mereka melakukan sujud syukur. Kami merasa memperoleh kabar dari seorang anggota keluarga yang telah lama hilang, bahkan hal itu lebih menggembirakan. Berita ini menjadi sumber pendorong besar bagi dakwah kami. Kami sebarkan berita itu kepada semua orang dan kami memutuskan untuk merayakannya. Banyak dari kami mengirimkan E-mail kepada Abdurrahman untuk mengucapkan selamat atas keislamannya. Ia sangat gembira ketika menerima E-mail dari kami. Ia kini menganggap kami adalah keluarga dekatnya. Kasih sayang dan sikap kekeluargaan yang ia terima dari kami menjadi sumber kepuasaannya.

Dari salah seorang muslimah yang mengirimkan E-mail kepadanya, ia tahu bahwa hal pertama yang harus ia lakukan setelah memeluk Islam adalah melaksanakan shalat. Apa yang ingin ia lakukan setelah itu adalah shalat. Ia sangat ingin berbakti kepada Allah, namun ia tidak tahu tata cara shalat: bacaan atau pun gerakan. Ia mencoba belajar shalat dari video di Youtube, namun tidak mengerti kata-kata bahasa Arab. Ia sangat kebingungan. Keinginnannya yang kuat untuk segera melaksanakan shalat membuatnya mengirimkan sebuah E-mail kembali kepada muslimah itu:

Salam Ukhti Muslimah, saya ingin meminta bantuan kepada anda! Saya tahu bahwa telah menjadi kewajiban bagi setiap muslim untuk melaksanakan shalat, tapi saya tidak tahu tata cara shalat. Saya tidak tahu yang harus dibaca dalam shalat. Bagaimana mungkin saya bisa pergi ke masjid setiap waktu shalat? Jaraknya begitu jauh dari rumah saya. Waktu shalat Maghrib bahkan sangat larut ketika mendekati musim dingin. Saya bis ashalat di rumah, namun tidak tahu tata cara shalat. Tolong bantu saya Ukhti!

Setelah itu ia juga mengirimkan E-mail yang berisikan kegundahannya karena tidak bisa melaksanakan shalat:

Saya ingin beribadah kepada Tuhan, namun saya hanya tak tahu caranya shalat. Saya berpikir:”Ibadah hanyalah berkomunikasi kepada Allah. Saya tidak perlu ke masjid yang jauh di sana untuk beribadah kepada Allah. Ada Gereja di dekat sini. Saya bisa berbicara sebanyak mungkin dengan Tuhan.” Namun kemudian saya berbicara kepada diri saya,”Syaitan mencoba menggoda saya karena saya kini telah menjadi muslim. Syaitan mencoba memberikan alternatif tempat kepada saya untuk beribadah. Saya tidak akan pernah pergi ke sana!

Ia menghabiskan waktu malam itu dengan menangis. Ia duduk di atas karpet di ruang tengah rumahnya. Dan ia menyeru Allah:

Ampuni saya! Saya tidak tahu caranya shalat! Ya Allah, mudahkanlah saya untuk mengabdi kepada Enkau dan mudahkanlah saya untuk mendirikan shalat seperti Engkau memberi saya pentunjuk kepada Islam. Saya tidak ingin mati dalam keadaan tidak pernah shalat. Saya takut! Ya Allah, saya sangat mencintai Enkau dan saya bisa merasakan Cinta-Mu. Karena itu, saya sangat ingin mengabdi kepada Engkau dengan penuh penghambaan. Apa yang harus saya perbuat jika seandainya saya mati tanpa pernah shalat kepada-Mu, meski hanya sekali?

Malam itu, ia terlelap tidur dalam keadaan seperti itu dan melihat mimpi yang luar biasa. Dalam sebuah E-mail yang dikirimnya kepada muslimah Maldives yang paling dekat dengannya, ia menulis:

Salam Ukhti Muslimah, jangan kawatir lagi dengan shalatku. Saya shalat dengan Rasulullah salallahu alaihi wa sallam tadi malam. Di seluruh Italy, tidak orang yang setampan beliau salallahu alaihi wa sallam. Jiwa saya meleleh ketika melihat senyum beliau salallahu alaihi wa sallam. Hati terpenuhi cinta kepada beliau salallahu alaihi wa sallam. Allah telah menciptakan beliau salallahu alaihi wa sallam dalam bentuk yang paling sempurna -janggut yang mengagumkan, mata hitam yang menawan, senyum yang memesona, gigi putih yang teratur, dan kulit wajah putih merona. Seolah terlihat ada cahaya dari wajah beliau salallahu alaihi wa sallam.

Beliau salallahu alaihi wa sallam berkata,”Asslamualaikum Abdurrahman.”

“Siapa Abdurrahman?” kataku.

Beliau salallahu alaihi wa sallam berkata bahwa itulah saya. Kemudian beliau salallahu alaihi wa sallam berkata,”Bukankah itu adalah nama yang diberikan oleh saudari-saudari muslimah kepadamu? Itu adalah nama yang sangat bagus.”

Saya bertanya kepada beliau salallahu alaihi wa sallam apakah Allah masih mencintai saya sedangkan saya belum pernah mendirikan shalat satu kali pun. Sementara shalat adalah kewajiban yang paling penting setelah seseorang mengikrarkan syahadatain.

Beliau salallahu alaihi wa sallam berkata,”Jangan kawatir! Allah mengetahui segalanya. Allah mengetahui kesulitanmu sebagai mualaf. Ketulusan dan cintamu kepada Allah lebih berat di mata Allah. Jangan khawatir, karena kehidupanmu kelak di akhirat lebih baik dari kehidupanmu di dunia ini.

Kemudian beliau salallahu alaihi wa sallamm menambahkan,”Mari shalat denganku. Shalat pertamamu sebagai muslim.”

Saya mengikuti perintah beliau untuk shalat bersama beliau.

Setelah shatal, beliau salallahu alaihi wa sallam berkata,”Wahai Abdurrahman! Kapanpun kamu shalat, shalatlah seperti kamu melihatku shalat.”

Beliau salallahu alaihi wa sallam berkata,”Berhati-hatilah dirimu terhadap syaitan! Mereka tidak hanya menipumu dengan waswas. Mereka datang dalam bentuk dan cara yang banyak. Kadang dalam bentuk manusia, kadang dalam bentuk nafsu, dan terkadang dalam bentuk kekayaan. Cobalah untuk menghindar dari perangkap syaitan. Dan mintalah perlindungan kepada Allah dari syatan. Bertaubatlah segera jika kamu terjatuh dalam dosa, meskipun dosa itu tidak kamu sengaja. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Berhati-hatilah terhadap syaitan. Shalatlah tepat waktu. Shalatlah dengan berjamaah. Ini adalah perisai terbaik yang bisa membentengimu dari syaitan.”

Kejaian itu membawa perubahan besar dalam hidupnya. Ia menghancurkan mini bar di rumahnya yang biasa ia pergunakan untuk menjual alkohol. Para pekerjanya membuang botol-botol alkohol dan membuang gambar-gambar dinding. Ia menghilangkan gambar-gambar itu karena ia tahu malaikat rahmat tidak akan datang ke tempat yang banyak gambar makhluk. Ia juga membeli banyak buku-buku tentang Islam dan juga membeli AL-Qur’an terjemahan bahasa Itali di kota tetangga. Ia membaca Al-Qur’an setiap hari.

Abdurrahman mengalami banyak cobaan setelah ia menjalani kehidupan ala Islam. Keluarganya memutuskan tali persaudaraan dengannya dan kawannya menjadi asing baginya. Suatu malam ia mengundang keluarganya makan malam dan berniat mengabarkan keislamannya kepada keluarganya. Reaksi keluarga tidak seperti yang ia harapkan sebelumnya. Mereka smeua memutuskan tali silaturahmi dengannya dan meninggalkan rumahnya dengan berkata,”Kami bahkan tidak mau makan makanan yang dibuat orang Islam.” Tanpa keluarga dan kawan, Abdurrahman sebatang kara. Pada saat itu, adalah muslimah terkdekatnya dari Maldives yang menghibur dan mendukungnya. Ia mengatakan kepadanya,”Saya tidak memiliki siapa pun saat ini, namun saya bahagia dan tentram. Saya tidak bersedih. Hati saya selalu terpenuhi oleh perasaan bahagia.”

Abdurrahman menceritakan kepada kami dalam sebuah E-mail tentang mimpi di malam setelah ia berdiskusi dengan beberapa kawannya:

Saya melihat mimpi yang sangat mengagumkan tadi malam! Malaikat-malaikat berpakaian putih, membawa saya ke tempat yang sangat luar biasa. Mereka datang ketisa saya sengang melaksanakan shalat, menyapa saya dengan salam, dan mensucikan saya dengan air yang wangi. Mereka memakaikan saya pakaian yang wangi dan membawa saya ke sebuah tempat. Dalam perjalanan, banyak malaikat berpakaian putih, tersenyum kepada saya dan memanggil nama saya. Saya tidak tahu ke mana mereka akan membawa saya, saya terlebih dahulu bangun sebelum mimpi itu selesai. Namun hal-hal ganjil masih bisa saya ingat: bau wangi pakaian yang saya kenakan.

Setelah itu, Abdurrahman berniat berkunjung ke Maldives sesegera mungkin. Ia ingin mempelajari Islam lebih dalam dan membaca Al-Qur’an. Ia berniat menghafal Al-Qur’an 30 Juz, setelah muslimah yang paling dengannya memberitahunya keutamaan menghafal Al-Qur’an. Ia berniat terbang ke Mladives Desember 2014 dan mulai mencoba mengganti nama dan paspornya. Ia juga menulis dua setelah wudhu di selembar kertas dan menempelkannya di dinding.

Abdurrahman mengalami banyak kejadian yang membuktikan tingkatan keimanannya seperti ketika berada di perusahaan di mana ada beberpa perempuan yang tidak secara layak, kawan-kawannya yang menghinanya juga menghina keyakinannya, dan beberapa kejadian lain.

Dalam setiap kondisi, ia berusaha dengan keras agar tidak terjatuh dalam dosa, karena ia menginginkan surga.

Dalam E-mail terakhirnya 5 Desember 2014, Abdurrahman menceritakan kisahnya ketika ia pergi menghadiri jamuan makan malam saudari perempuannya. Ia tidak makan apa pun karena saudarinya telah menyiapkan daging babi dan ayam. Ia diberi alkohol, yang mana secara terang-terangan ia menolaknya. Setelah itu, saudarinya juga membawa pendeta Kristen untuk menasehatinya agar meyakinkan ia untuk keluar dari Islam. Abdurrahman menerima jamuan makan saudarinya karena ia berniat memperbaiki tali silaturahmi dengan keluarganya, namun saudarinya malah memliki rencana lain: membuatnya kembali kepada Kristen.

E-mail terkhir Abdurrahman kami terima 5 Desember 2014. Ia menyebutkan bahwa ia akan mengirimkan E-mail lagi selepas shalat Jum’at. Namun kami tidak pernah lagi menerima E-mail darinya, tidak pula pernah menjawab E-mail yang kami kirimkan. Bagaimana mungkin kami menerima jawaban darinya? Ia meninggal pada hari Jum’at itu ketika bersujud. Ia telah menyampaikan perpisahan kepada dunia ini. Ia meninggl dalam keadaan sujud, seperti yang ia saksikan dalam mimpinya. [Sumber : wajibbaca.com]

0 Response to "Mengharukan! Kisah Seorang Muallaf, Hingga ia Meninggal Pada Sujud Shalat Jum'at"

Poskan Komentar