Dihina, Mukenanya Disobek dan Suami Meninggal, Farissa Tetap Memilih Islam



Hidayah datang kapan saja dan dari mana saja atas izin Allah SWT. Farisa misalnya, lahir dari keluarga Nasrani yang taat.

Tak ada garis keturunan Muslim dari keluarganya. Namun, interaksi dengan komunitas Muslim membuatnya sedikit tahu tentang Islam dan Muslim. Salah satunya, ucapan salam yang diajarkan dalam Islam.

Sayangnya, pengetahuannya tentang Islam dan Muslim tak disukai keluarganya. Suatu ketika, ada teman Farissa menghubunginya dengan mengucapkan salam. Kebetulan ayah Farissa yang mengangkat telepon itu.

“Bapak saya sangat marah, sampai melempar bangku bambu ke punggung saya karena saya bergaul dengan teman Muslim. saya kesakitan dan sesak,” katanya mengenang, saat berbincang dengan Republika.co.id belum lama ini.

Farissa sempat bertanya-tanya terkait reaksi bapaknya tersebut. Terlebih ketika ia mulai dilarang bergaul dengan temanya yang Muslim.

Tahun 2002 Farissa kuliah di Medan, sementara keluarganya di Jakarta. Jauh dari keluarga Farissa manfaatkan sebagai kesempatan emas untuk mencari tahu tentang agama Islam lebih dalam.

Semester awal Farissa yang beragama nasrani mengambil mata kuliah agama Islam, saat ujian nilai Farissa mendapat nilai E hingga dia dipanggil oleh dosennya, menurut dosennya tidak pantas umat beragama dapat nilai E.

Tapi saat dijelaskan bahwa Farissa beragama Nasrani dan sengaja mengambil mata kuliah agama Islam karena Farissa ingin mengetahui ilmu agama Islam.

Farissa yang tinggal di indekos dengan teman-teman Muslim yang taat beragama, sangat senang ketika melihat teman-temannya shalat. Ketika melihat orang shalat hatinya sangat tenang.

“Waktu masih kos, saya juga pernah bermimpi. Saya berada di gurun pasir yang gersang tidak ada seorang pun di sana,” kata dia.

Bertemulah ia dengan sosok yang wajahnya tak bisa dilihat. Ditanyalah Farissa tentang kemana tujuannya. “Dia tuntun saya tanpa bicara. Saya jadi bingung mau dibawa ke mana,” ujarnya.

Saat terbangun, di luar kos-nya, terdengar suara ngaji dari masjid sebelum shalat Shubuh. “Saya termenung dan bibir saya mengucapkan dua kalimat syahadat. Padahal saya belum tahu, apa yang saya ucapkan itu syahadat,” kenang dia.

Ia pun bercerita kepada temanya yang hendak shalat Shubuh. Diceritakanlah mimpinya itu. Temannya, begitu kaget mendengar kemampuanya

“Dijelaskan oleh ustaz bahwa itu adalah hidayah dari Allah, ustaz menanyakan apakah saya pernah mempelajari agama Islam atau pernah tertarik?. “

“Saya jelaskan kepada beliau bahwa saya penasaran dengan agama Islam.Akhirnya beliau meminta saya untuk mengucapkan syahadat dan berpegang teguh dengan agama Islam.”

“Hidayah ini mahal dan Islam adalah yang bisa menyelamatkan saya. Akhirnya saya mengucapkan syahadat, tapi saat itu saya masih belum yakin,” kata Farissa.

Seiring berjalannya waktu, pada 2004 Farissa bertemu dengan teman yang lain. Oleh temannya itu Farissa meminta diajarkan agama Islam dan dia benar-benar ingin masuk Islam, temannya itu menolak karena Farissa harus yakin jika ingin berpindah agama.

“Sahabat saya itu tidak tahu pengalaman saya dan memang saya tidak menceritakan kepadanya. Cuma waktu itu dia bilang, kalau saya ingin jadi orang Islam harus yakin dan dipikirkan dengan matang, apalagi ketika di Jakarta nanti keluarga saya tidak tahu agama saya Islam dan saya masih harus beribadah ke gereja,” ujarnya.

Menurut temannya itu, Farisa harus sepenuhnya yakin agar mencegah mempermainkan agama. “Jadi menurut dia baiknya saya belajar dahulu tentang Islam dan mulai belajar sholat ketika saya yakin dan berani menghadapi keluarga saya barulah saya bersyahadat, ” ujar Farissa.

Farissa mulai belajar ibadah wajib, awalnya dia belajar shalat dan wudhu. Hal yang dirasakan ketika dia berwudhu adalah sejuk dan tenteram. Memulai shalat, hati Farissa bergetar. Dia tidak pernah merasakan perasaan tenang dan tenteram seperti itu sebelumnya.

Tahun 2006, Farissa kembali ke Jakarta. Keluarganya belum mengetahui keislamannya dan tahun itu Farissa sudah mulai melaksanakan ibadah wajib walaupun belum teratur karena dia masih takut keluarganya tahu.

“Saya mulai memberanikan diri untuk beribadah di rumah, tapi kamar saya selalu saya kunci. kalau saya ingin berangkat kerja mukena dan sajadah selalu saya sembunyikan,” katanya.

Pernah Farissa mengunci kamar dan menyembunyikan mukenanya. Tiba-tiba mukena tersebut sudah disobek-sobek. 
“Setelah kejadian itu, setiap pulang kerja saya pulang ke rumah setelah shalat Isya di masjid. Karena takut ibu saya berbuat hal, yang tidak wajar lagi. Saya mohon ampun pada Allah atas dosa-dosa saya dan ibu saya,” ujar Farissa.

Walaupun Farissa menjalankan shalat, tapi dia masih terus mempelajari Islam dan agama lamanya. Sering dia menanyakan arti ketuhanan dalam agama nasrani kepada pendeta. Tapi Farissa tidak pernah mendapatkan jawaban yang tepat.

Farissa selalu merasakan keraguan, dia menjelaskan bahwa di agama nasrani Yesus adalah sang penebus dosa dan dilahirkan oelh wanita suci, sementara di Islam, Tuhan itu tidak beranak dan tidak diperanakan serta tidak berwujud, tapi mengapa di Nasrani Tuhan itu berbentuk dan berwujud.

“Akhirnya saya ambil kesimpulan. Ya Allah tolong saya dan berikan saya hidayah. Saya memutuskan bahwa Islam adalah agama yang benar dan tepat,” kata Farissa.

Tahun 2009 Farissa menikah dengan laki-laki Muslim. Keluarga besarnya baru mengetahui keislaman Farissa. Awalnya mereka memang kaget tapi tidak mempermasalahkan, karena menurut Farissa, keluarganya melihat suami Farissa yang mapan dan bisa membantu perekonomian keluarganya.

Bersama suaminya Farissa dibimbing menjadi seorang Muslimah yang baik dna mengajarkan Farissa arti ketaatan juga kesabaran, Farissa semakin mantap menjalani hidup sebagai Muslim. ketika keimanannya semakin mantap, ujian terus datang dari keluarganya.

Keluarganya mulai berusaha untuk menarik Farissa kembali ke agama Nasrani. Anak Farissa pun dipaksa diberi nama Nasrani oleh orang tuanya. Selain itu, pendeta pun sering mengunjunginya dan mencoba menggoyahkan keimanannya, tapi Farissa tetap teguh memeluk agama Islam.

“Saya sangat yakin dengan agama Islam karena agama Islam yang paling benar, selama 26 tahun saya memeluk agama Nasrani saya tidak pernah sebahagia memeluk agama Islam. Allah maha sempurna, tidak ada Tuhan yang wajib disembah selain Dia,” katanya.

Pada 2013, Farissa mengucapkan syahadat. Ia juga mantap berhijab. Ujian mulai datang menimpa Farissa dan keluarganya. Ketika berhijab, Farissa mulai ditinggalkan teman-temannya. Kemudian, suaminya meninggal.
Keluarganya kembali merayu Farissa yang mulai kesulitan ekonomi. Namun, ia tetap menolaknya dan memilih bekerja keras ketimbang meninggalkan Islam.

“Saya sering dihina bahwa saya gembel yang belagu, orang miskin yang sombong,” kata Farissa.

Meskipun saat ini Farissa hanya berjualan nasi uduk dan gorengan di rumahnya,  terkadang tidak habis bahkan rugi, tapi Farissa selalu tabah dan hanya pada Allah dia menyerahkan segalanya. Dia yakin bahwa Allah menyiapkan hadiah terindah jika dia mau bersabar dan tidak menukar keimanannya dengan materi.

Menurut Farissa, walaupun dia dijauhi dan terkadang hatinya merasa sakit tapi hanya pada Allah dia manyerahkan segalanya.[Sumber : republika.co.id]


0 Response to "Dihina, Mukenanya Disobek dan Suami Meninggal, Farissa Tetap Memilih Islam"

Poskan Komentar