Tak Mau Mengemis, Nenek Ruminem Pilih Jadi Tukang Tambal Ban


Di usia lanjut, sepasang suami-istri Sukadi (70) dan Ruminem (74) enggan berpangku tangan.

Mereka berdua memilih membuka bengkel sepeda dan tambal ban di rumah sederhana RT3/RW1 Dusun Bulu, Desa Bulutengger, Kecamatan Sekaran, Lamongan, Jawa Timur.

Uang yang mereka peroleh dari pekerjaan itu tidaklah tidak seberapa. Mereka tetap ikhlas dan menganggap pekerjaan itu lebih terhormat daripada pengemis.

"Kami biasa buka dari jam 06.00 WIB pagi sampai jam 17.00 WIB sore. Dengan penghasilan rata-rata setiap harinya sekitar Rp 40.000 sampai Rp 50.000," kata Ruminem, Senin (12/12/2016).

Pernah juga mereka mendapatkan uang hingga Rp 100.000 saat ramai pelanggan.

Dengan hasil tersebut, Sukadi dan Ruminem yang tinggal berdua itu di rumah itu tetap merasa bersyukur.

Berapa pun uang yang mereka dapatkan setiap hari, itulah rezeki yang dicukupkan oleh Yang Maha Kuasa.

"Selama kami masih diberi kekuatan oleh Allah dalam mencari rezeki ini. Lebih baik kami bekerja seperti ini karena kami tidak mau menjadi pengemis. Lebih baik berkeringat daripada menggantungkan belas kasih dari orang lain," ujar Ruminem.

Dalam menjalankan usaha bengkel tersebut, Ruminem dan Sukadi berbagi tugas. Selain menjadi ibu rumah tangga, ia menangani pekerjaan di bengkel yang bersifat ringan. Pekerjaan berat menjadi bagian suaminya.

"Kalau memperbaiki sepeda, biasanya bapak yang melakukan. Kalau saya yang ringan-ringan saja, seperti menambal ban," ujar Ruminem.

Ruminem bisa menambal ban karena belajar secara otodidak dari suaminya yang sudah lebih dulu menjadi tukang tambal ban.

Karena merasa kasihan dan ingin meringankan beban suaminya, Ruminem pun mengamati cara sang suami bekerja.

Awalnya Sukadi menolak permintaan istrinya untuk membantu menambal ban karena itu pekerjaan laki-laki.

"Setelah saya tegaskan kepada suami, ini adalah pekerjaan halal dan saya mampu melakukannya. Terlebih pekerjaan ini lebih mulia daripada harus mengemis, suami kemudian mengizinkan saya," kata dia.

Setiap kali menambal ban sepeda motor, Ruminem mendapatkan Rp 5.000. Untuk sepeda, tarifnya Rp 3.000.

Sukadi mengaku sebenarnya tidak tega melihat istrinya ikut menambal ban. Namun, karena keinginan istrinya begitu kuat serta kondisinya yang sempat sakit-sakitan, ia tidak kuasa dalam membendung keinginan sang istri.

Ia beberapa kali melarang istrinya menambal ban, tetapi Ruminem selalu ngotot untuk membantu.

Sukadi juga tidak mengajari cara menambal ban, tetapi Ruminem bisa melakukannya karena sering mengamati suaminya menambal.

Meski banyak bengkel serupa yang berdiri di samping kanan dan kiri bengkel mereka, Sukadi dan Ruminem tidak merasa khawatir akan kehilangan mata pencarian.

"Karena bagi kami, rejeki itu sudah ada yang mengatur. Tinggal bagaimana kita menyikapinya masing-masing," kata Sukadi. [kompas]

0 Response to "Tak Mau Mengemis, Nenek Ruminem Pilih Jadi Tukang Tambal Ban"

Poskan Komentar