close
loading...

'Polisi' Paling Enerjik di Indonesia, Terima Gaji Rp500 Ribu Per Bulan



"Bukan Jakarta jika tidak macet," ungkapan tersebut memang pantas disematkan untuk ibu kota Indonesia itu.

Macet menjadi rutinitas lalu lintas Jakarta, apalagi di waktu pagi, kala puncak kesibukan pekerja kantoran berangkat kerja.

Polisi plus petugas Dishub pun harus duet mengurai ruwetnya lalu lintas. Bahkan, pekerjaan mereka harus dibantu tangan lain.

Hal itu seperti yang terlihat di simpang empat Pondok Pinang Jakarta Selatan. Diapit dua pintu masuk dan keluar tol dalam kota dan jalan utama menuju Pondok Indah, kemacetan sering terjadi di pagi dan sore hari.

Tampak seorang pria jangkung dan kerempeng mengenakan seragam polisi dengan sigap mengendalikan lancarnya lalu lintas di persimpangan tersebut. Dia adalah Hasan (35), yang bekerja dari jam 06.00 hingga jam 10.00 WIB.

Jika melihat cara dia kerja, Anda mungkin akan menobatkannya sebagai polisi paling enerjik di Indonesia. Sayang dia bukan polisi sungguhan, hanya orang yang dipekerjakan oleh kepolisian untuk membantu tugas mereka.

Panas seakan justru jadi penyemangat Hasan. Peluh sudah bagaikan body lotion, debu dan asap knalpot pun seakan menjadi teman akrabnya.

"Saya kerja dari jam 05.30 WIB sampai jam 09.30 WIB, mentok-mentoknya jam 10an udahan," ujarnya berbicara kepada Rimanews usai bekerja.

Bekerja dengan penuh semangat, Hasan sering mendapat salam hormat dari sopir angkot dan truk yang melintas.

Sudah hafal dengan jeda lampu merah-hijau, Hasan tak segan-segan menyetop kendaraan yang melaju dari arah Ciputat dengan penuh senyum. Tapi, tak jarang Hasan menghardik pemotor yang tetap saja menerobos lampu merah.

"Ya kadang kita omelin aja tuh orang, tapi mau  gimana lagi, kalau pagi-pagi orang buru waktu kerja, kadang ga didengerin juga." Ujarnya sambil mengipas wajah menggunakan topi coklatnya.

Terkadang, dalam mengatur arus, Hasan mengabaikan lampu lalu lintas. Dia lebih melihat kepadatan kendaraan. Arus di lajur yang tampak lengang dengan kendaraan akan dihentikan untuk membuka lajur yang penuh kendaran, padahal lampu di jalur yang sepi tersebut masih hijau.

Tak jarang, pengendara tak terima dan membunyikan klakson keras-keras. Hasan tak peduli dan lebih percaya kepada insting dan pengetahuannya.

Tak hanya cukup melambaikan tangan dan meniup peluit dari pinggir jalan seperti polisi pada umumnya, Hasan aktif bergerak ke tengah bahkan menyeberang ke sisi lain guna mengatur lalu lintas.

Dengan gesit berpindah dari satu laur ke lajur lain, peluh Hasan tampak bercucuran. Kulitnya wajahnya yang gelap pun mulai mengkilap.

Terlihat Hasan menggeleng-gelengkan kepalanya, tak percaya dengan bandelnya para pengendara. “Mereka gak ngerti. Padahal, demi keselamatan mereka,” kata pria Betawi ini.


Jam menunujukkan pukul 8.30, tangan Hasan terus berayun ke samping dan ke atas, memberikan aba- aba kepada para pengendara: harus berhenti, atau berjalan cepat.

Disela-sela kesibukannya mengatur lalu lintas, Hasan tak segan melayani pengendara yang bertanya alamat.

"Tumben hari ini macet banget, biasanya jam segini mulai agak lancar," ujarnya sambil kembali bergerak ke tengah jalan menyetop mobil.

Sejenak ia melihat jam tangannya, mungkin lelah sudah mulai ia rasa. Akan tetapi, Hasan tetap melanjutkan kembali tugasnya, "Ayo jalan..jalaan teruss...!!" Suara Hasan keras.


Tak jarang, kenek truk dan bus yang melintas memberikan tip kepada Hasan. Mungkin mereka merasa terbantu dengan aksi Hasan.

"Macet kenapa pak?” Tanya seorang sopir truk kepada Hasan.

“Gak tahu. Sampai jam segini biasa juga udah terurai," balasnya.

Ditanya mengapa sampai begitu semangat berlari ke sana dan ke mari sambil tangannya bergerak aktif seperi menari, Hasan menjawab, “Hitung-hitung olahraga aja lah. Istilahnya, kan olahraga banyak, ya kita cari yang banyak manfaat."

Dulu Hasan berprofesi sebagai seorang tukang ojek yang setiap hari mangkal di perempatan Pondok Pinang, tempat dia bekerja mengatur lalu lintas saat ini.

Saat itu ia melihat polisi begitu sibuk mengatur laju kendaraan. Selain banyaknya kendaraan, penyebab kemacetan waktu itu adalah galian gorong-gorong. Hasan tergerak untuk membantu polisi mengatur lalu lintas, sambil menunggu pelanggan.

"Dulu ada gorong-gorong di sini, saya ngojek, terus bantu-bantu polisi," cerita Hasan.

Melihat ketulusan dan kesigapan Hasan, kepolisian akhirnya memberikan kepercayaan. Hasan diberikan seragam, topi dan rompi laiknya polantas, setelah hampir setahun bekerja.

"Alhamdulillah polisi percaya sama saya, saya dapat seragam setelah hampir setahun kerja. Nama komandan saya, Ibnu Sunarjo, dari Polsek Kebayoran Baru," ujarnya.

Hasan akhirnya pensiun jadi tukang ojek dan lebih memilih membantu polisi setiap hari. "Ya kalau Sabtu dan Minggu libur, seperti orang kerja biasa aja," katanya.

Tak hanya mendapat sebuah seragam lengkap, Hasan juga menerima gaji bulanan dari kepolisian. Meskipun terbilang sangat kecil untuk ukuran hidup di Jakarta, tapi Hasan tetap bersyukur.

"Ada gaji setiap bulannya, kecil si tapi alhamdulillah cukuplah, Rp500 ribu," katanya.

Hingga saat ini, Hasan masih belum berkeluarga dan tinggal bersama orang tuanya tak jauh dari perempatan.

"Saya tinggal di dalam sini, dekat SD Pondok Pinang," ujar Hasan sembari mengucungkan telunjuknya ke arah jalan menuju rumahnya.[Sumber : rimanews.com]

0 Response to "'Polisi' Paling Enerjik di Indonesia, Terima Gaji Rp500 Ribu Per Bulan"

Posting Komentar